Laporan reporter Tribunnews.com Mafani Fidesya Hutauruk-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Industri film Indonesia terimbas pandemi Virus Corona (Covid-19).

Sutradara Andi Bachtiar Yusuf (Andi Bachtiar Yusuf) bercerita tentang kesulitan yang ditemuinya dalam membuat film.

Oleh karena itu, ia berharap masyarakat Indonesia dapat menonton film di bioskop untuk menikmati film.

“Sedikit orang yang mengira bioskop itu ya, ya, kami tahu film Indonesia itu tidak besar. Saya bukan orang yang menonton film saya sendiri. Saya malas menonton TV. Mungkin film saya seperti FTV,” Kata sutradara. Pariban (2019) mengaku lebih suka menonton karyanya langsung di bioskop. -Dia Menjelaskan bahwa ada perbedaan antara menonton film langsung di bioskop dan hanya menontonnya di TV. Lihat avatarnya. Tidak baik menonton TV. Tapi berapa banyak orang di Indonesia yang merasa seperti ini, ā€¯ujarnya, Sabtu (13/6/2020).

Menyesalinya meski sangat sulit dan butuh proses panjang untuk mencapainya, tidak semua. Orang Indonesia bisa menikmati film.

“Penonton Indonesia biasanya tidak berpikir begitu. Penonton di bioskop Indonesia memikirkan beberapa pemain yang sederhana, lucu, menonton sepak bola, dan imut, “kata sutradara film Love for Sale dan Love for Sale 2 ini dalam wawancara eksklusif dengan Tribunnews.com di Jakarta Selatan.

Baca: Joko Anwar Bayangkan Jarak fisik memang sulit diterapkan dalam produksi film-Andi Bachtiar mengatakan bahwa membuat film membutuhkan sekitar 50 hingga 300 staf (staf film) .- “Sebenarnya itu melibatkan Untuk 50 hingga 80 orang … Selain itu, beberapa bahkan 100 atau 200. Bahkan ada yang 300. 50 hingga 80 adalah cabang kecil, akan ada satu atau dua tenda. Diperlukan tempat atau hunian sementara untuk menunjang pekerjaan.

“Atau gunakan rumah penduduk sebagai pemain, minta kru untuk bertanggung jawab atas barang, makanan, dan pasti ada keramaian. Belum lagi mobilnya. Itu saja. Dia bilang:” Dia bilang padaku orang sangat Sedih, itu tidak lebih sulit daripada membuat burger.