Laporan Reporter Tribunnews.com Bayu Indra Permana-Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Tasya Kamila menempuh pendidikan di Columbia University di New York, AS selama dua tahun. Hambatan tersulit adalah kematian ayahnya.

Tepatnya pada tahun 2017, ketika ayahnya meninggal, Tasya Kamila tidak dapat kembali ke Indonesia.

Almarhum ayahnya meninggal karena serangan jantung. Tasya Kamila mengatakan dalam seminar online, Kamis: “Namanya kuliah di luar negeri. Kamu harus siap dengan pro dan kontra sendiri. Termasuk kematian ayahku saat akan kuliah di luar negeri. , Saya tidak bisa pulang. ”/ 2020).

Bagi Tasya yang sedang belajar di luar negeri, berita malang menjadi kendala tersulit yang dia rasakan.

“Saya tidak bisa datang ke Indonesia untuk menghadiri pemakaman ayah saya. Ini tantangan terberat saya. Selebihnya bisa diatasi,” lanjutnya.

Baca: Tasya Kamila Merasa Mahalnya Biaya Hidup Belajar di Amerika Serikat, Makan di Jalanan, Harganya $ 5-Bisa Belajar Agama Tanpa Paksaan, Yang Tertua Dari Lulus dari Pesantren-di Tasia Theological Seminary, menjelaskan PSE dan seminar kepada para pelajar muda, bersiap menghadapi segala kendala saat memilih kuliah di luar negeri.

Meski demikian, Tasya tetap bisa memastikan Anda berwisata ke luar negeri bahkan pengalaman berwisata. Ini akan memberikan pengalaman yang sangat berharga.

“Tentunya para tuna wisma, baik itu kerja maupun sekolah pasti mengalami pasang surut,” kata Tasya.

“Kita bisa belajar bagaimana hidup di luar ruangan, katanya.” Katanya.

Saya telah belajar S2 di Universitas Columbia selama dua tahun. Tasya kini memiliki gelar master dalam administrasi publik. — -Dia memutuskan kuliah di luar negeri khususnya di Amerika Serikat, karena tidak ingin kuliahnya mencapai S1, maka Tasya minimal berharap studinya bisa mencapai S2.