Wartawan Tribunnews.com Bayu Indra Permana-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM – persidangan kasus ikan asin untuk para terdakwa Pablo Benua, Rey Utami dan Galih Ginanjar akan dilakukan melalui konferensi telepon. Memprediksi penyebaran virus corona. Dan ikuti panggilan pemerintah untuk menghindari keramaian.

Rencananya untuk melanjutkan uji coba akan menggunakan panggilan video.

Para hakim dan terdakwa Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tetap berada di Pusat Penahanan Polisi Distrik Yedu di Ibukota Baru. – “Persidangan dilakukan dengan Duplich pada agenda balasan kepada jaksa. Tetapi melalui panggilan konferensi,” Penasihat Hukum Sugiharto Atmowidjoyo Galih Ginanjar mengatakan ketika menghubungi tim media pada Senin (6/4/2020).

Baca: Karena video topeng N95, virus virus adalah profil pribadi Dr. Cantik Clarin Hayes

Baca: Soimah dari Ivan Gunawan hingga Agni Pratistha memproduksi dan berbagi topeng kain untuk mencegah Corona

“Hakim, jaksa penuntut dan pengacara berada di ruang sidang PN, sementara terdakwa tetap berada di fasilitas penahanan,” katanya.

Persida tidak akan mengadakan persidangan seperti biasa, tetapi terdakwa tidak di pengadilan.

Baca: Barbie Kumalasari (Barbie Kumalasari) mengungkapkan pendekatan ini, karena Galih Ginanjar dipengaruhi oleh kasus ikan asin – Baca: Air Mata Pilu Rey Utami dikumpulkan dari lubuk hatinya Menjelang ulang tahun yang bahagia, kalimat ini menyebar ke hati saya— “Ya, mas, bedanya adalah bahwa terdakwa tidak akan dibawa ke pengadilan besok,” katanya.

Sebenarnya, tiga terdakwa dalam kasus pencemaran nama baik minggu lalu, yaitu kasus Ikan Asin, telah menerima permintaan dari jaksa penuntut.

Pablo Benua dituntut selama 2 tahun dan 6 bulan, Rey Utami selama 2 tahun, dan Galih Ginanjar selama 3 tahun. Rencana agenda persidangan hari ini diulangi, atau tanggapan terdakwa kepada jaksa penuntut.