Laporan Wartakotalive.com reporter Lilis Setyaningsih-Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Sebagian orang menilai pemeriksaan PCR terhadap sampel yang diambil dari hidung dan mulut tidak menyenangkan. Banyak orang menderita.

Petugas yang akan mengambil sampel memasukkannya seperti kancing panjang, kemudian memasukkannya sambil membuka mulutnya sehingga petugas dapat bereaksi atau menggosok lendir yang ada di tenggorokannya.

Sama di hidung. Ambil sampel melalui lubang hidung, masukkan alat berupa kancing tanduk dengan rambut halus ke dalam lubang hidung dan lingkari lingkaran.

Banyak orang enggan melakukan pengujian PCR karena prosesnya yang tidak menyenangkan. Pada Jumat (4/9/2020), saat ada masalah dengan sesi chat, yang diperbolehkan hanya sampel dari mulut atau hidung.

Baca: Tes PCR Lebih Akurat Dibanding Quick Test, Kenapa? Demikian penjelasan dari ahli patologi klinik – dr. Ida Parwati, ahli patologi klinik RS Hassan Sadikin Bandung, dr SpPK (K) menjelaskan bahwa untuk menghasilkan hasil yang akurat, baik hidung maupun hidung Pengambilan sampel dan mulut. -Menurut berbagai penelitian, terdapat hasil yang lebih positif di hidung dibandingkan di rongga mulut, karena terdapat lebih banyak bakteri di rongga mulut yang mempengaruhi reaksinya. Anggota melakukan tes usap kapas-Bacaan: Seorang bayi perempuan yang ibunya positif Covid-19 akan diuji dengan kapas- “Lebih baik melakukan operasi hidung, yang tidak menyenangkan, karena dia sakit, tetapi itu adalah Metode paling sederhana dan paling aman Profesor Ida berkata: “Selain mengeluarkan dahak dari paru-paru, lebih baik mengeluarkan paru-paru dari paru-paru. Paru-paru harus melakukan hal yang sama, karena tidak perlu membuang dahak. Dahak bisa menyebar ke sembarang tempat. “Mengeluarkannya dari hidung juga dapat menyebabkan bersin. Ini normal dan bukan berarti hasil yang positif.