Reporter Tribunnews.com Seno Tri Sulistiyono

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM – Ketua MPR Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan bahwa diskusi sosial berskala besar (PSBB) akan membahayakan perkembangan jangka panjang ekonomi nasional.

“Lamanya pembatasan sosial yang berkelanjutan tidak hanya akan memenjarakan orang di rumah, tetapi juga akan menyebabkan semua orang jatuh ke dalam perangkap yang dapat menyebabkan penderitaan jangka panjang,” kata Bamsoet dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Minggu (4/4) 26/20). -Menurutnya, pembatasan jangka panjang akan menyebabkan semua orang menemui jalan buntu, karena tidak ada pekerjaan, meningkatkan jumlah orang miskin.

Baca: Ketika istri Covid-10 positif, Ganindra Bimo dapat memperlakukan pelayan restoran tanpa anak

Baca: Inter Milan ingin merekrut Paul Pogba yang dituduh Christian Eriksen – Baca: Bekasi Terus terang, ratusan warganya telah meninggal, tetapi dia masih kurang kesadaran. Dia memperkirakan bahwa jika prevalensi umum 19 negara tidak dapat dihentikan segera, maka langkah-langkah untuk membatasi kebijakan sosial tentu saja harus dilanjutkan.

Akibatnya, pabrik menghentikan produksinya. Kegiatan distribusi dibatasi dan diperkuat. Dia mengatakan: “Tidak hanya itu, layanan transportasi umum telah berkurang secara ekstrim. Pusat perbelanjaan (mal perbelanjaan besar) dan restoran harus ditutup. Oleh karena itu, konsekuensi pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak terhindarkan.”

Kementerian Pertahanan FKPPI bertanggung jawab Orang mengatakan bahwa di Jawa Tengah dan Yogyakarta, sebanyak 30.000 pekerja pariwisata terancam pengangguran. -Karena kurangnya turis, Bali mungkin juga kehilangan hingga 135 triliun rupee.

Hilangnya maskapai penerbangan lokal melebihi Rs 2 triliun. “Petani dan pekerja kelapa sawit beresiko kelaparan karena melambatnya ekspor kelapa sawit.” Dia mengatakan: “Ini adalah bagian dari keseluruhan populasi yang menderita akibat epidemi umum di 19 negara, yang membutuhkan pembatasan sosial yang ketat.”