Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman terus melakukan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan vaksin melawan virus corona atau covid-19. Profesor Dr. Amin Soebandrio menuturkan, ada beberapa kendala yang dihadapi dalam proses penemuan vaksin.

Baca: Kepala Staf TNI Angkatan Darat: Nanti, Hasil Uji Klinis Covid-19 Anti Covid untuk Seluruh Masyarakat Pertama, dari Manusia dan Sumber Daya Teknis yang Ia dukung.

Namun untuk uji klinis pada hewan besar, Eijkman harus bekerja sama dengan institusi yang membiakkan hewan besar. — “Saat ini SDM teknis dalam ruangan sudah ada Eijkman Institute, tapi sedang mempelajari hewan besar, seperti monyet atau monyet, kita harus bekerja sama dengan mereka. Siapa pemilik hewan peliharaan kera,” kata Profesor Amin dalam “Covid-19 Made in Indonesia Vaccine Live Webinar “(Rabu, 15/7/2020). Ada berbagai tahapan uji klinis pada hewan, termasuk sel yang paling dekat dengan manusia sebelum uji klinis pada manusia. Kendala kedua, zat atau reagen tertentu tidak ada di Indonesia sehingga harus diimpor dari luar negeri.

Pada saat yang sama, karena pandemi Covid-19, proses distribusi reagen menjadi lambat dan jumlah yang banyak meningkatkan permintaan dari negara / wilayah lain, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama bagi reagen untuk sampai di Indonesia. Amin .

Baca: Ketua LBM Eijkman mengimbau Indonesia bisa menemukan dan memproduksi vaksin Covid-19-saat ini progres penemuan vaksin sudah mencapai 30%. guru. Amin mengatakan langkah-langkah prosesnya akan lebih lama, namun jika sesuai maka proses ke depan akan lebih cepat. Profesor Amin menyimpulkan bahwa proses ini akan lebih cepat dan kami berharap dapat berakhir pada akhir bulan. Tahun ini atau Agustus, kami dapat menguji hewan besar dan kecil.