JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Direktur Eksekutif Lingkungan Politik Indonesia Adi Prayitno memperkirakan pada Pilkada serentak Desember mendatang, angka partisipasi pemilih akan turun.

Pasalnya, pandemi Covid-19 membuat masyarakat takut pergi ke TPS. (TPS). – “Saya curiga partisipasi Pilkada saat pandemi bisa turun tajam karena pemilih khawatir jika ke TPS akan terkena corona,” Adi dihubungi Tribunnews, Jumat (29 Mei 2020). Kata Shi. Ini juga merupakan usulan kampanye terbuka, yang sebenarnya dinilai bisa mengurangi minat pemilih di Pilkada.

Memang, tidak semua orang tidak terhubung ke Internet.

Dia menyarankan bahwa harus ada situasi atau implementasi dari proyek Pilkada.

Baca: BPKP bantu awasi penyaluran bansos di komunitas terdampak Covid-19

Jadi, penyelenggara Pilkada harus melakukan rekayasa, kata Adi.

Pengamat Politik UIN Jakarta mencontohkan situasi yang bisa diterapkan nanti saat Pilkada kada.

Misalnya, waktu pencoblosan dari pagi hingga sore agak santai untuk meminimalkan waktu pencoblosan. Akumulasi banyak .

Baca: Telpon Jokowi. Dia menyimpulkan: “Untuk menghilangkan aksi HIV / AIDS, sebaliknya bisa juga mengajukan pemungutan suara elektronik sehingga pemilih tinggal memilih calon dari rumahnya.” DPR RI, pemerintah, dan KPU sepakat menggelar pilkada serentak pada 9 Desember 2020. Tahap Pilkada 2020 juga disepakati secara bersamaan pada 15 Juni tahun depan.

“Tahap lanjutan akan dimulai. Ketua Pansus II DPR RI menyampaikan bahwa pada 15 Juni 2020 semua langkah Pilkada harus dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan sanitasi, dikoordinasikan dengan Pokja Covid-19 dan dipertahankan dengan berpedoman pada prinsip demokrasi. , Ahmed Doli Kurnia Tanjung