Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Pemerintah menetapkan batas maksimal deteksi cepat virus Corona (Covid-19) sebesar Rp 150.000. Bagaimana jika seseorang istirahat?

Biaya mempelajari Tribunnews.com selalu lebih tinggi dari batas deteksi APID maksimum yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

Banyak warga yang telah menjalani tes cepat independen telah masuk ke Jakarta untuk menunjukkan bahwa mereka harus mulai dari Rp 150.000.

Harga alat quick test adalah Rp150.000. Namun, ada kewajiban lain yang harus dibayar selama tes cepat.Selain tes cepat Rp 150.000, peserta tes juga diharuskan membayar biaya manajemen, biaya layanan, dan nilai tukar “ sertifikat kesehatan ” yang ditetapkan agar tetap di 30 Sekitar sepuluh ribu rupiah. Bagaimana sikap pemerintah?

Bacaan: Pakar Epidemiologi Usulkan Pemerintah Evaluasi Dampak Pengetesan Cepat

Bacaan: Alat Uji Cepat Buatan Indonesia Siap Menyaingi Produk Luar Negeri, Dan Harganya Tidak Melebihi Rp75.000

Menteri Pembangunan Manusia Bersama Komite Koordinasi Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy berjanji pemerintah akan menjatuhkan sanksi tegas kepada rumah sakit (RS) dan menetapkan tarif deteksi cepat di atas Rp150.000. -Muhadjir menanggapi surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menetapkan angka maksimal rapid testing.

“Sebagai bagian dari surat edaran Kementerian Kesehatan tentang pembatasan harga maksimal” Ya, harus ada sanksi. Itu harus diberi sanksi. “