Reporter Tribunnews.com Theresia Felisiani

Jenderal Argo Yuwono dari Tribunnews.com-Karo Penmas Mabes Polri di Jakarta meminta agar pemakaman korban virus korona tidak lagi ditolak di beberapa daerah. Identifikasi para tersangka dari tiga pemrotes yang menolak untuk menerima pemakaman korban koronavirus di pemakaman di desa Suwakul, distrik Ungaran Barat, Semarang. Bahkan ada ketua RT. Berkenaan dengan tindakan mereka, mereka didakwa dengan beberapa artikel, yaitu Pasal 212, 214 dan 14 Paragraf 1 UU No. 4 tahun 1984 tentang Epidemi.

“Kita semua adalah korban epidemi dan tidak lagi menolak untuk bersabar untuk” pemakaman korona. “Sama seperti efek hukum polisi di Jawa Tengah, ada tiga tersangka”, Argo di Tribunnews. com dikonfirmasi pada Selasa (14/4/2020): — Membaca: Selama tur Bali, perilaku buruk turis asing di Bali adalah lazim, beberapa dari mereka adalah peselancar Keberuntungan …- Baca : Pendidikan non-sistematis Covid-19 telah menjadi akar penyebab penolakan mayat korona di berbagai bidang: seperti ini, dari Chili ke penerbangan quadruplet karena terjadinya corona

– baca : Anies Baswedan akan berkoordinasi dengan masalah PSBB Bodetabek dan kendaraan masuk dari luar Jakarta-demi antisipasi, sang jenderal menjelaskan bahwa Polisi Nasional dan TNI percaya bahwa pemerintah daerah selalu menjaga komunikasi untuk memberi tahu penduduk bahwa mayat itu pasti aman , Tidak dapat menyebar.

“Kami tidak lelah mendidik warga su paya, menerima korona lebih banyak, dan menolak pemakaman aktif corona. Dia menambahkan itu karena mereka juga saudara kita.-Akhirnya, Argo Masyarakat disarankan untuk tidak mudah tergoda oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menolak menerima pemakaman pasien virus corona. Alasannya adalah bahwa bagian medis memiliki prosedur operasi standar khusus yang disiapkan secara fisik.