Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Peningkatan jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit juga meningkatkan aktivitas memeriksa pasien.

Karena itu, limbah medis atau limbah akan meningkat secara otomatis.

Belum lagi limbah medis, seperti masker yang dibuang oleh masyarakat.

Ada juga kekhawatiran tentang pengelolaan limbah medis.

Baca: Fakta yang Terungkap dalam Penjualan Telur Steril: Harganya Murah, dan Bahaya Dimakan.

Karena jika tidak ditangani dengan baik, limbah medis dari pasien penyakit infeksi harus menjadi sumber penularan penyakit bagi pasien, pasien dan masyarakat sekitar.

Sebagai wilayah yang juga terkena dampak penyebaran Covid-19, pengelolaan limbah medis Covid-19 di Kota Banten mendapat perhatian serius dari parpol, salah satunya anggota Komite IV DPR RI Nur’aeni. Baca: Indonesia, Rabu 10 Juni 2020. Berita Terkini Kasus Corona di Indonesia: D 1241, Jumlah Kasusnya 34316 – Menurut Nuraeni, limbah medis berbasis pena (seperti masker bekas) patut menjadi perhatian, terutama di masyarakat. Karena pengguna topeng tidak harus membuang masker sekali pakai sesuka hati.

Ketika berhadapan dengan contoh-contoh lain, orang-orang terbiasa memisahkan limbah medis dari limbah rumah tangga biasa, atau memotong sabuk pelindung ketika mereka ingin membuangnya.

Lakukan langkah ini untuk mengantisipasi pemulihan topeng bekas.

“Semangat yang didirikan di pusat dan daerah telah membawa nilai-nilai positif dan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Misalnya, mengundang masyarakat untuk memperhatikan limbah infeksius dan membuang masker dengan tepat.” Limbah koinfeksi B3 di Provinsi Banten Nur’aeni adalah pembicara tamu di webinar sosialisasi manajemen. Video disiarkan langsung di akun YouTube dan halaman penggemar sultantv.co (06/10/2020), Kota Serang, Banten.