TRIBUNNEWS.COM, AKP Lamsir, kepala kantor polisi Grobergen-Karangrayung, dan anggota TNI Grobergen, Jawa Tengah, dipaksa untuk campur tangan untuk mengevakuasi keluarga yang menolak dirawat di rumah sakit karena Covid-19. Lanjutkan untuk mengevakuasi keluarga dari desa Sumberjosari di subdivisi Karangrayung, Grobogan, yang dinyatakan sebagai tes respons cepat.

“Kami dalam kesehatan yang baik dan tidak ingin dibawa ke rumah sakit. Kematian adalah nasib Tuhan,” kata tes respon cepat, menolak untuk menerima perawatan di ruang isolasi rumah sakit. Rumah Sakit Getas Pendowo di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Penolakan itu akhirnya mendorong Kapolres Karangrayung AKP Lamsir dan anggota TNI untuk mengambil tindakan.

Kompas.com menghubungi Lamsir melalui telepon genggamnya. Dia berkata: “Kami dalam kesehatan yang baik, kami tidak ingin sakit, kematian adalah takdir Tuhan. Penolakan membuat saya gugup.” Sabtu (2 Mei, 2020) .- — Baca: Hubungi Jakarta di World Gateway, Anies: Tidak, keledai adalah yang pertama menghadapi ibukota Corona

Baca: 8 anak di bawah umur Anak-anak mendapatkan bantuan sosial di kota Covid -19 Kepala desa Batu bingung: datanya berbeda

baca: bawa anak-anak untuk memasak di rumah, buat dirimu lebih bersemangat Cobalah tips berikut

informasi terkait, dari desa Karangrayung Sumberjosari Ketika Getas Pendowo Grobogan dari keluarganya membawa tim Covid-19 ke rumah sakit setempat, Kabupaten Grobogan di Jawa Tengah, di mana tanggapan diumumkan berdasarkan tes cepat, ditolak.

Seorang ibu dan dua anak tinggal dalam diri seseorang yang akhirnya diselamatkan oleh Agen TNI-Polri (PDP) dan diawasi. Kapolres Karangrayung AKP Lamsir dan seorang anggota TNI yang mengenakan FPE terpaksa segera melakukan desentralisasi untuk mengenal ketiganya.

Mereka juga memiliki kesempatan untuk berdebat di ruang tamu rumah. -Pergoki tiga orang di rumah bertopeng “cracking”, tidak ingin kita mendapat perawatan intensif di ruang isolasi.