TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov) membatalkan bisnis pemutaran film yang semula dijadwalkan akan dibuka kembali pada 29 Juli 2020.

Pidato pembukaan kembali film ini menyatukan pro dan kontra semua pihak, termasuk para ahli di bidang medis.

Beberapa ahli interdisipliner dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia membahas dan setuju untuk meminta pemerintah DKI untuk menunda waktu pembukaan bioskop ke waktu yang tidak pasti.

Mengapa? Apakah tidak aman untuk kembali ke bioskop sekarang?

Ari Fahrial Syam dari SpPD-KGEH, Dekan dan Profesor Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa gedung bioskop biasanya merupakan ruangan tertutup tanpa ventilasi dan pendingin udara bersirkulasi di dalam ruangan.

Jika pengunjung tidak memiliki gejala, tetapi membawa SARS CoV atau virus yang menyebabkan Covid-19, itu mungkin menjadi sumber virus yang menyebar ke pengunjung lain. Siaran pers diterima oleh Ari melalui Kompas.com.

WHO sebelumnya telah menyatakan bahwa Covid-19 dapat menyebar melalui tetesan, udara, kontak langsung, kontak tidak langsung, tinja, darah, penularan dari ibu ke anak, dan dari hewan ke manusia.

Dalam film, virus dapat menyebar di udara.

Baca: Pemilihan kepala daerah selama pandemi Covid-19, Bawasluw khawatir tentang serangan fajar

Baca: Pemerintah provinsi DKI menunda pembukaan bioskop, GPBSI: Ketidakpastian dalam pandemi

Dalam siaran persnya, Profesor Ari menjelaskan bahwa penularan melalui udara adalah rute penularan mikroorganisme, dalam hal ini SARS CoV2, yang ditransmisikan melalui aerosol. Walaupun mereka tertiup angin jarak jauh, mereka masih menular. .