Reporter Jakarta Tribunnews.com Larasati Dyah Utami melaporkan – Sebanyak 22 rumah sakit di Indonesia telah dimasukkan dalam program “Tes Persatuan”. Menteri Luar Negeri (Menteri Luar Negeri) Retno Marsudi (Retno Marsudi) pada konferensi pers yang diadakan secara online oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia, Rabu (29 April 2020). Menteri Luar Negeri mengatakan: “Saya dapat mengatakan bahwa 22 rumah sakit telah berpartisipasi dalam uji coba solidaritas sejauh ini.” — Baca: Mauricio Pochettino tidak dapat meninggalkan Tottenham-22 rumah sakit yang termasuk dalam uji coba solidaritas , Yaitu RSPI sulianti Suroso Jakarta, RSUP Haji Adam Malik Medan, RSUP Hasan Sadikin Bandung, Dr. RSUP Soetomo Surabaya, Rumah Sakit Universitas Udayana di Bali, Dr. Karyadi Semarang dari Rumah Sakit Aaryawa, Dr. RS UP Sardjito Yogyakarta, Dr. RSUPN Dr Ciptoto, Mangunkusumo Jakarta, RS Moewardi Solo, Persahabatan RS Jakarta, Dr. RSUP Kandou Manado, Dr. RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, Profesor RSJ. Suroyo Magelang, Rumah Sakit Universitas Ahmed Pekanbaru Rumah Sakit M Djamil Padgalang, Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi, Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, Rumah Sakit YARSI Jakarta, RSPAU Jakarta Esnawan Space Hospital dan Bali Sanglah Hospital.

Uji Solidaritas WHO adalah program Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertujuan untuk melakukan uji klinis dari empat terapi alternatif untuk pasien yang menderita Coronavirus (Covid-19).

Dengan membandingkan terapi standar dengan penggunaan 4 obat yang diuji dan 4 obat yang diuji, yaitu remdesivir, lopinavir / ritonavir kombinasi, lopinavir / ritonavir dan gangguan Untuk menyelesaikan perbandingan antara kombinasi prime (ß1b)

jar Indonesia adalah salah satu dari lebih dari 100 negara yang termasuk dalam program uji coba solidaritas. Menteri Luar Negeri mengatakan: “Tujuan dari uji coba solidaritas adalah untuk menemukan cara paling efektif untuk mengobati COVID-19. Indonesia juga telah melakukan kerja sama internasional untuk mengembangkan vaksin untuk Covid-19. Menteri Luar Negeri mengatakan bahwa Geely Fat Scientific’s Kimia Fama Company Penggunaan Remdesivir telah dipelajari dan saat ini sedang menunggu hasil uji klinis di Amerika Serikat. Pengembangan plasma membantu pasien dengan gejala sedang.

Pada saat yang sama, Bio Farma, bersama dengan Kementerian Riset dan Teknologi dan Institut Eijkman Konsorsium pengembangan vaksin dibentuk. Menteri Luar Negeri mengumumkan: “Konsorsium juga akan bekerja sama dengan mitra internasional.”