Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Psikolog Tika Bisono percaya bahwa setiap anak memiliki kekhasan masing-masing dan tidak dapat digeneralisasi.

Dia meminta guru dan orang tua untuk tidak membakukan kemampuan anak-anak mereka.

— Tika mengatakan pada sesi pertama untuk memperkuat kamp pelatihan untuk karakter virtual anak-anak Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Anak-anak memiliki kelebihan dan kekurangan untuk semua orang dan tidak dapat dibandingkan. Tidak dapat mengenakan seragam di kelas Tika berkata:” Absennya berkisar dari A hingga Z.

Membaca: Bagaimana memahami konsep standar baru balita di sekolah dasar

Dia juga menyebutkan bahwa orang tua adalah karakter yang ditiru oleh anak-anak. Dengan cara ini, anak-anak bisa meniru penanaman aktif dan sebaliknya. Tika berkata: “Jadi jika anak itu diperlakukan secara positif, ia akan menjadi aktif. Ketika anak itu diperlakukan secara negatif, ia akan menjadi negatif, dan anak itu adalah peniru.” Tika adalah yang pertama di Perkemahan Karakter Virtual Anak Indonesia. Kuartal pertama hari kedua. Sesi pertama ditujukan untuk tingkat PAUD / PAUDLB dan SD / SDLB.

Selain Tika, pelajaran pertama juga diisi dengan pertunjukan kabaret Putri Ariyani dan kisah Ariyo Zidni.

Kelas kedua dilakukan oleh psikolog klinis Ratih Ibrahim, Chiki Fawzi, dan pertunjukan pantomim. Septian Dwi Cahyo. Sesi kedua adalah untuk SMP / SMPLB, SMA / SMALB dan SMK / SMKLB.

Dalam pidatonya, Latihe memperkenalkan cara mewujudkan impian untuk anak-anak Indonesia. Dia sendiri mengajak anak-anak untuk menetapkan tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai.

“Mimpi adalah apa yang benar-benar ingin kita capai. Untuk apa, untuk tatanan kronologis,” kata Lati. — Judul “Anak-anak Bahagia, Keluarga Besar, Maju Indonesia” menarik 2.982 peserta dari 34 provinsi. Sebagian besar peserta berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Sumatera Utara. Acara virtual berlangsung dari 6 hingga 9 Juli 2020.