Jakarta, TRIBUNNEWS.COM – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan masalah pulang atau pulang selama pandemi virus korona. -Anwar mengatakan dalam pernyataan tertulis yang diterima oleh Tribunnews, Jumat (3/4/2020): “Karena diyakini dan / atau diduga akan menyebarkan virus ke orang lain. Selain itu, virus itu menular dan sangat berbahaya. . “).

Baca: 70.000 ibu rumah tangga masuk ke Ridwan Kamil (Ridwan Kamil) Provinsi Jawa Barat: Ini berarti bahwa kita akan mendapatkan 70.000 ODP baru-jika orang tersebut Dilarang melakukan hal yang sama, jadi Anwar menambahkan bahwa ini berarti orang itu melakukan sesuatu yang ilegal.

“Jadi, jika pemerintah melarang warga berjalan bolak-balik ketika wabah korona terjadi, itu baik-baik saja, bahkan jika hukum itu wajib, karena jika tidak dilarang, itu adalah bencana katanya.” Membaca: Pandem i Covid-19, 33 penduduk bebas Lapas Tuban menerima bantuan dari asimilasi rumah

Anwar mengatakan satu-satunya tindakan pemerintah adalah mengikuti dan mematuhi perintah Allah tentang politik campuran darah di pusat wabah.

“Ini berarti bahwa Anda tidak akan kehilangan diri Anda dalam kehancuran. Itu juga sepenuhnya sesuai dengan rekomendasi Nabi Muhammad. Nabi Muhammad melarang orang memasuki daerah bermasalah dan meninggalkan daerah itu,” katanya. … “Pelanggaran ketentuan agama dan perjanjian medis yang ada jelas akan sangat berbahaya karena dapat merusak dan mengancam kesehatan dan kehidupan individu dan orang lain,” simpul Anwar.