JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Dicky Budiman, ahli epidemiologi di Griffith University di Australia, mempertanyakan tujuan Presiden Yokowi memvaksinasi 1 juta orang setiap hari. –Dia menganggap keinginan ini sulit dan tidak realistis. Terburu-buru tidak serta merta menghasilkan block exemption, tapi jalannya masih panjang, “kata Tribunnews.com, Kamis (20/1/2021), tegasnya. Pemerintah yang bermasalah menghadapi penerapan vaksinasi.- – -Pertama-tama, ini pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, padahal dunia telah menerapkan program vaksinasi massal yang dilaksanakan dalam pandemi yang tidak terkontrol. Dicky mengatakan: “Masyarakat tidak percaya pada vaksin dan pandemi. Pada saat yang sama Saat perjuangan, kegiatan serupa juga dilakukan. “Kedua, masalah distribusi vaksin di banyak daerah .-” Misalnya, kurangnya fasilitas penyimpanan vaksin atau lemari es yang memadai di beberapa daerah. Kondisi ini harus dilihat. Dia menjelaskan. Oleh karena itu, ini tidak realistis.

Baca juga: Cita-cita Presiden Jokowi kelola Menkes Covid-19: Saya bukan bidadari, tapi kita harus kerja keras-selain itu, SDM dalam hal pembatasan, ketersediaan vaksin itu sendiri , dan masalah lain di lapangan, seperti bencana alam.

“Jadi vaksinasi sekarang sudah natural, dan vaksinasi dilakukan la-foot. Ini kali pertama Dicky melaksanakan vaksinasi.” Menurut Dicky, pemerintah menargetkan lebih baik dan meningkatkan cakupan 3T. Cakupannya, seperti pengujian. … “Apa yang harus dilakukan adalah satu juta sehari. Itu akan sangat penting. Atau 250.000 tes sehari, dan sekarang lebih penting untuk melakukan tes ini.” Katanya. -Kita tahu hukuman Presiden Jokowi diumumkan usai suntikan Sinovac kedua pada Rabu (27/1).

Ia mengatakan bahwa dengan 30.000 pemberi vaksinasi, tujuannya bisa tercapai.

“Kami punya 30.000 vaksinasi, dan kami harap bisa memvaksinasi minimal 900.000 hingga 1 juta orang setiap hari. Ini target, tapi butuh waktu dan manajemen yang baik,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.