Jakarta TRIBUNNEWS.COM-F-Anggota Panitia PKB IX DPR RI Arzeti Bilbina mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menghormati semua hak kesehatan pasien Covid-19, termasuk yang menjalani isolasi mandiri. Dia menekankan perlunya mensosialisasikan dan mendidik pasien yang telah dipastikan positif Covid-19.

Selain itu, dia meminta pemerintah untuk memperhitungkan harga yang tinggi dan menghentikan obat-obatan dan vitamin yang diisolasi secara mandiri. Jika perlu, dia meminta pemerintah untuk menghapus pajak atas obat-obatan Covid-19. Menurut dia, pajak obat yang berlebihan ini menyebabkan tingginya harga obat.

“Menkes harus tanggap dan gesit. Sosialisasi dan edukasi harus gencar dilakukan. Bukan cuma 3 miliar dan 3T. Pemerintah butuh FPKB DPR RI. Anggota menjelaskan, misalnya menyebarkan Covid -19 pasien dengan tetangga Cara bersosialisasi yang adil dan tepat Yang terpenting adalah memenuhi segala kebutuhannya. Dibutuhkan vitamin dan obat-obatan gratis. Legislator dari Dapil Jatim menjelaskan jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia meningkat. Masyarakat khawatir. Sedikitnya sekitar 858.043 orang dipastikan positif Covid-19 dan angka kematian tinggi. Artinya, ada 24.951 penduduk. Kurva terus meningkat setiap hari, dan tidak ada tanda penurunan. Hal ini tentu patut mendapat perhatian. Pemerintah perlu Sebuah terobosan harus dilakukan dalam strategi dan kebijakan penanganan pandemi.

Perlu diperhatikan juga bahwa banyak rumah sakit rujukan Covid-19 yang sudah penuh. Padahal Jumlah pasien positif Covid-19 yang dikonfirmasi terus meningkat. Banyak pasien harus mengisolasi diri. Di saat yang sama, jumlah pasti pasien yang menjalani isolasi sendiri masih belum jelas. Berdasarkan hasil penyelidikan dan observasi di tempat, dia mencontohkan bahwa hampir semua masyarakat dengan gejala positif ringan di Jabodetabek, Surabaya dan Sidoarjo perlu mengisolasi diri. Jangan lengah sama sekali. Nah, hal ini penting. Pemerintah harus tetap waspada dan tanggap. Arzeti Bilbina menyimpulkan: “Don Jangan hanya fokus pada vaksinasi, tapi lupakan manajemen pasien. “