Laporan oleh Chaerul Umam dari Tribunnews.com di Jakarta-Tribunnews.com di Jakarta – Pandemi virus koroner (Covid-19) semakin meluas dan telah menginfeksi 1.155 orang hingga Sabtu (28/3) / 2020) .- — Menghadapi situasi ini, Suparji Ahmad, seorang pengamat hukum di Universitas Al Azhar (UAI) di Indonesia, meminta pemerintah untuk mempertimbangkan membatasi jumlah orang yang ditahan di penjara atau fasilitas penahanan. Memperluas.

Menurutnya, untuk tahanan yang belum menerima vonis tinta, pertimbangan khusus harus diberikan pada perselisihan.

Selama tahanan memenuhi persyaratan obyektif dan subyektif untuk pembebasan, mereka harus diperiksa.

“Kondisi subyektif untuk tidak melarikan diri tidak akan hilang dari bukti, dan tidak akan membuat kesalahan dan kerjasama.”, Su Paji mengatakan, Minggu (29 Maret, 2020).

Baca: Tidak jelas kapan Liga Italia akan dimulai, dan Puny, ketua FIGC, dapat memilih untuk terus memberikan Scudetto

Baca: MUI menyarankan agar pemerintah mengajukan blokade

Dia menambahkan bahwa memang harus dipertimbangkan bahwa semua jenis dapat mencegah mahkota Kebijakan penyebaran mencakup nasib napi.

Selain itu, kemampuan untuk terlalu menahan ruang dapat mempengaruhi efek kesehatan masyarakat pada kenyamanan dan menandatangani Covid-19 untuk tahanan.