JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan secara resmi meluncurkan studi klinis tahap 2-3 terapi plasma rehabilitasi untuk pasien Covid-19, mulai Selasa (9/8/2020). Slamet Kesehatan, Plt. Kepala Badan Litbang, mengatakan ada empat rumah sakit yang sudah siap melakukan uji klinis pertama yakni di RS Fatmawati Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS dr Ramelan Surabaya, dan RSUD Sidoarjo Jawa Timur. Sebentar lagi akan ada 20 rumah sakit lagi. Kata Slamet dalam keterangan yang dikutip dari situs Kementerian Kesehatan, Kamis (9/10/2020).

Selain itu, kata Slamet, uji klinis administrasi plasma rutin akan melibatkan 364 pasien.

Baca: Uji klinis vaksin merah putih diharapkan dimulai tahun depan

Diharapkan dalam tiga bulan ke depan studi ini sudah selesai dengan hasil atau bukti keamanan dan efektivitas. Terapi plasma tradisional ini.

Penggunaan plasma dalam pengobatan bukanlah hal baru. Pada tahun 2009, plasma dari pasien yang pulih telah digunakan sebagai metode pengobatan untuk wabah flu babi, Ebola, SARS dan MERS.

Namun, pengobatan plasma konvensional pada Covid-19 hanya dapat digunakan dalam situasi darurat dan penelitian.

Karena tidak cukup bukti untuk membuktikan keefektifannya, manfaat terapi ini masih kontroversial. Uji coba terkontrol secara acak ini merupakan bagian penting untuk menyelesaikan sengketa ini. Oleh karena itu, Balitbangkes mendukung upaya para klinisi untuk menggunakan terapi plasma konvensional pada pasien COVID-19 sebagai terapi yang baru diperkenalkan untuk pasien COVID-19, ‚ÄĚkata Slamet – sesuai namanya, terapi dilakukan dengan mendonasikan plasma yang terkandung dari COVID-19. Bagian dari darah antibodi manusia pulih di -19.