JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Dalam kasus corona atau pandemi Covid-19, kebebasan manusia dibatasi dengan sendirinya atau oleh norma agama, sosial, dan hukum.

Kelompok Kerja Hikmahanto Juwana, anggota AA tim ahli hukum Covid 19, mengatakan: Tujuan dari pembatasan adalah agar interaksi semacam ini tidak tertular maupun menyebar. ) .

Baca: Nyesek Slavoj Žižek’s New Normal, Shame Culture and News

Guru Besar Hukum, Presiden Universitas Unjani (Unjani), Indonesia, Banyak Negara Luar Negeri dan Pemerintah Daerah Jelaskan Akan Segera Mereka Orde baru normal atau orde baru terus mengendurkan PSBB sampai batas tertentu.

Dalam tiga bulan terakhir melaksanakan PSBB, pemerintah mewajibkan masyarakat untuk melakukan segala aktivitas di rumah, mulai dari beribadah, belajar dan bekerja.

Namun Hikmahanto melaporkan, penerapan PSBB telah menempatkan masyarakat pada posisi yang tidak kondusif bagi kondisi kemanusiaan, yakni masyarakat yang menginginkan kebebasan.

“Pemerintah negara mana pun dapat memahami apa sifat manusia itu,” katanya.

Oleh karena itu, standar baru telah diadopsi sehingga orang dapat memperoleh kembali kebebasannya, tetapi memberikan perhatian ekstra. n Sesuai dengan protokol Covid-19. Tingkatkan kekebalan, sehingga Anda dapat bergerak dan bergerak dengan bebas. Namun untuk mencegah penularan atau kemungkinan penularan, pungkasnya.