Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei yang dilakukan oleh para tokoh opini dengan topik “Kepemimpinan dan Dampak Kelembagaan dalam Penanganan Covid-19” pada Kamis (20/8). Dalam survei tersebut, sebagian besar narasumber percaya bahwa penggunaan tes cepat sebagai identifikasi awal orang yang terinfeksi atau tidak terinfeksi dianggap sebagai langkah yang tidak efektif untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19. Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Survei Indikator Politik Indonesia, mengatakan dalam siaran pers virtual, Kamis (20 Agustus 2020): “Sebagian besar (di atas 50%) menunjukkan bahwa rapid test sama sekali tidak efektif.” — -Mengenai hasil survei, mereka menunjukkan bahwa responden yang menilai tes cepat tidak efektif terbagi menjadi dua pilihan.

Bacaan: Survei indikator: Sebagian besar narasumber berpendapat bahwa PSBB cukup efektif untuk mencegah penyebaran virus corona, sehingga jika dicatat jumlah total, 56,9% responden menganggap global rapid test tidak efektif. Ia mengatakan: “Sebanyak 56,9% elit menganggap uji cepat ini tidak valid.”

Di sisi lain, Burhanuddin mengatakan bahwa hanya 3,3% responden yang menganggap uji cepat ini sangat efektif.

Pada saat yang sama, 39,1% orang percaya bahwa deteksi cepat cukup untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi atau tidak terinfeksi.

Untuk survei ini, narasumber adalah pemimpin opini nasional dan daerah. Jumlah responden sebanyak 304 dari 20 kota di Indonesia.

Orang-orang ini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pencegahan Covid-19 daripada populasi umum di Indonesia.

Mereka termasuk akademisi yang menjadi rujukan media, editor politik dan kesehatan media, pengusaha, pemerhati kesehatan, sosial dan politik, pimpinan organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, organisasi non-pemerintah, dan organisasi profesi.