JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Ketua Panitia Kedua DPR RI Ahmad Doli Kurnia (Ahmad Doli Kurnia) mengatakan sulit menyelenggarakan Pilkada serentak 2020 saat pandemi.

Tantangan ini terkait dengan pesan pemerintah di awal pandemi Covid-19 bahwa masyarakat harus tinggal di rumah.

Menurutnya, hal tersebut dapat mengurangi jumlah pemilih yang mengikuti kompetisi pada 9 Desember mendatang.

“Tantangannya, pada awal pandemi Covid-19, pemerintah menyatakan bahwa Dolly harus membahas” dampak pandemi Covid-19 “secara online dan berkata,” Sesampai di rumah, saya bahkan punya tagar #dirumahsaja . Saya pikir kebanyakan dari kita telah menanamkan sesuatu yang lebih baik di rumah dalam pikiran mereka. Tentang Peran Parpol dan Pilkada Selanjutnya, Sabtu (27 Juni 2020).

Baca: Wakil Menteri: Semua kementerian dan komisi merespons wabah Covid-19

Dolly mengatakan bahwa di masa transisi, normal baru tercapai, dan pemerintah sekali lagi mengirim sinyal untuk berubah pikiran

ketika orang ditanya Saat dilakukan penyadaran, ternyata jika masyarakat terus berdiam diri di rumah tanpa mengetahui kapan pandemi ini akan berakhir juga akan mengganggu kehidupan masyarakat, terutama masalah ekonomi.

“Karena itu, kita masih punya waktu enam bulan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Ini juga membutuhkan komitmen kita semua.”

Politikus Golkar itu mengatakan selama ini, Penyelenggara pemilu, khususnya KMT, selama ini menjadi garda terdepan dalam sosialisasi pemilu. Terkait situasi dan situasi yang berbeda akibat pandemi Covid-19, Doli mengatakan, semua pemangku kepentingan, pemerintah, republik demokrasi, masyarakat sipil, dan penyelenggara pemilu wajib membuat komitmen. Sangat penting untuk memberikan informasi yang akurat kepada publik tentang pentingnya pemilu, keselamatan, dan kesehatan. Karena sama-sama penting, sekarang kita rencanakan untuk menaruhnya sehingga meski agenda politik bisa berperan, kesehatan dan keamanan masyarakat juga terjaga, ”ujarnya.