TRIBUNNEWS.COM-Pandemi Corona yang Belum Selesai (COVID-19) memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan kehidupan dalam tatanan normal baru atau keadaan normal baru. Suka atau tidak suka, Anda harus menerapkan normal baru untuk mencegah penyebaran virus korona dan mencegah keruntuhan ekonomi.

Meski masyarakat bisa beraktivitas di luar rumah setelah penerapan standar baru, Wapres menyampaikan bahwa masyarakat harus selalu disiplin dalam melaksanakan prosedur kesehatan.

“Masyarakat harus benar-ini disiplin yang nyata, kalau tidak bisa meningkatkan penyebaran Covid-19 lagi”, kata Wakil Dekan Presiden Ma’ruf Amin, dikutip Kompas.com, Senin. (06/08/2020) .

Baca: Selamat datang di normal baru, Sandi Uno merekomendasikan agar pemerintah memberikan dana tunai kepada UMKM

agar standar baru benar-benar berjalan sesuai dengan rekomendasi pemerintah, perlu tetap tegas pada pesannya- Informasi yang tidak konsisten akan menimbulkan kontradiksi dan kemudian memungkinkan komunitas untuk menetapkan definisi baru tentang masyarakat normal. – Hal ini disampaikan oleh Dr. Drajat Tri Kartono, sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) di Seakarta, Si. M.Selama wawancara dengan Tribunnews.com melalui Zoom pada Senin (6 Juni 2020).

“Pemerintah harus tetap tegas dalam penyatuan informasi. Jangan sampai informasi dari pusat, daerah, dan pusat masuk. Di badan usaha publik, hubungan antara pendidikan berbeda.”

“Perbedaan inilah yang akan diperhatikan Kontradiksi akan menimbulkan respon terhadap munculnya konstruksi sosial baru, konstruksi normalitas sosial, yaitu definisi situasi dimana komunitas itu sendiri berada, ”jelas Draget. –Menurut Drajat, hal ini dikarenakan masyarakat merasa kesepian di tempat umum selama pandemi ini.