TRIBUNNEWS.COM-Hingga saat ini, Rabu (15 Mei 2020), tidak kurang dari 13 tim medis tewas di antara perawat yang meninggal dalam pandemi Covid-19.

Ketua Tim Manipulasi manipulasi -19 Komite Perawat Nasional Nasional Indonesia (DPP PPNI) Jajat Sudrajat (Jajat Sudrajat) mengomentari insiden tersebut.

Jajat percaya bahwa ada korelasi antara ketersediaan alat pelindung diri (APD), yang tidak cocok untuk kematian rekan perawat. Kurangnya alat pelindung diri. “Kami masih mengeluh tentang hotline, dan beberapa rumah sakit dan rumah sakit abses mengeluh tentang kekurangan APD,” ‚Äč‚Äčkata Jajat kepada Tribunnews pada hari Rabu, 15 April 2020.

Melanjutkan, keluhan diajukan di beberapa wilayah di Indonesia. Sama seperti kota Sukabumi di Lampung, Papua.

Jajat menjelaskan bahwa sebagai organisasi profesional, para pihak tidak dapat menyediakan APD dan kemudian mendistribusikannya ke daerah di mana dibutuhkan, sehingga mereka tidak dapat berbuat lebih banyak. Memberikan informasi yang kami miliki. “Membaca: Kelompok kerja Covid-19 bekerja sama dengan para peneliti yang disertifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia dalam dunia Membaca-produksi APD: Sosiolog berbicara tentang Indonesia Masalah undangan untuk tinggal di rumah-di sisi lain, Jajat mengungkapkan bahwa gangguan rantai komunikasi Covid-19 sebagian besar dikendalikan oleh pemerintah melalui banyak kebijakan.

Mediasi terakhir untuk menyebarkan Covid-19 adalah mengelola tim medis dengan merawat pasien.